Kamis, 08 Desember 2011

LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN


 
Makalah
“ LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN “
Di kerjakan untuk memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Landasan Kependidikan
Dosen Pengampu : Drs. H. Tamsik Udin, M.Pd

Disusun Oleh :
1.         Gina Patriasih
2.         Novitasari
3.         Mutiara Jabar
4.         Chaerul Anwar
Matematika A/1   


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) SYEKH NURJATI CIREBON
Jalan Perjuangan  By  Pass Sunyaragi  telp  (0231) 481264


PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
            Pendidikan dipercaya dapat membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Namun, apa jadinya jika pendidikan hanya mementingkan intelektual semata tanpa membangun karakter peserta didiknya. Hasilnya adalah kerusakan moral dan pelanggaran nilai-nilai pada akhirnya, hasil pendidikan ini hanya akan menjadikan manusia seperti robot, berakal tapi tidak berkepribadian ( jiwa kosong ).
            Untuk itulah, urgensi pendidikan karakter kiranya adalah jawaban bagi kondisi pendidikan seperti ini. Dengan adanya pendidikan karakter semenjak usia dini diharapkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini sering menjadi keprihatinan bersama dapat diatasi.
            Apa dan bagaimana pendidikan karakter tersebut? Pendidikan karakter dan segala seluk beluknya dapat pembaca simak dalam makalah yang telah dibuat ini.
Dengan kepeningan itula makalah ini kami buat, selain untuk memenuhi tuga terstruktur dan pentingnya pendidikan bagi kita semua.

2. Rumusan Maalah
1. Apa yang dimaksud dengan individu, mayarakat, dan kebudayaan?
2. Pengertian dari pendidikan informal, formal, dan nonformal?
3. Bagaimana sikap guru kepaa siswa dan implikasinya terhadap fungsi dan tipe guru?
Apa yang dimaksud dngan sosiologis dan antrpologis?

3. Tujuan
1. dapat memberikan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan landasan kependidikan
2. pengertian-pengertian landasan kependidikan mnurut para hli
3. dan memperjelas materi tentang landasan kependidikan sosiologis dn antroologis.

LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN
A. Individu, Masyarakat dan Kebudayaan
Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat di bagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bisa bersifat unik, serta bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya sendiri atau otonom.
Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Manusia hidup bermasyarakat dan menghasilkan kebudayaan yaitu keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Anatar individu, masyarakat, dan kebudayaanya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana dimaklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan di pengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya.
Di dalam masyarakat terdapat struktur sosial, status dan peranan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan-tujuannya, setiap individu maupun kelompok melakukan ada pun dalam interaksi sosial tersebut mereka melakukan berbagai tindakan sosial, tindakan sosial yang dilakukan individu hendaknya sesuai dengan status dan peranannya dan diharapkan sesuai pula dengan kebudayan masyarakatnya. Masyarakat menuntut hal tersebut tiada lain agar tercipta korformitas. Tindakan sosial yang tidak sesuai dengan norma dan nilai dan norma dan kebudayaan masyarakat dipandang melakukan penyimpangan tingkah laku atau penyimpangan sosial terhadap pelaku penyimpangan sosial masyarakat akan mengucilkannya bahkan melakukan pengendalian sosial.


B. Pendidikan: Sosialisasi dan Enkulturasi
Sosialisasi adalah suatu proses dimana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Sedangkan enkulturasi suatu proses dimna individu belajar berfikir, bertindakd dan merasa yang mencerminkan kebudayaan mayarakat.
Pendidikan diupayakan antara lain agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya. Apabila di tinjau dari sudut pandang sosiologi, pendidikan identik dengan sosialisasi, sedangkan apabila ditinjau dri sudut pandang antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi. Karena di dalam proses sosialisasi hakikatnya terjadi juga proses enkulturasi dan sebaliknya di dalam proses enkulturasi juga terjadi proses sosialisasi, dalam konteks ini maka pendidikan hkikatnya meliputi sosialisasi dan enkuturasi.
C.  pendidikan Sebagai Pranata sosial
Pranata sosial adalah perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya (basic needs).
Jenis-jenis pranata sosial :
1.      Pranata ekonomi
Seperangkat aturan yang mengatur tentag kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa sehingga terwujud kesejahtraan dan keteriban masyarakat. Terlahir pada saat orang melakukn tukar menukar barang (barter) secara rutin membagi-bagi tugas dan mengakui adanya tuntutan terhadap orang lain. Antara lain brtujuan untuk mningkatkan kesejahteraan masyarakat. Fungsinya mengatur hubungan antar pelaku ekonomi dan meningkatkan produktifitas ekonomi semaksimal mungkin.
2.      Pranata agama
Agama adalah ajaran atau system yang mengatur tentng keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta mencakup pula tentang kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar manusia dengan lingkungannnya. Fungsinya ajaran atau aturan adalah memberikan tujuan atau orientasi sehingga timbul rasa saling hormat antar sesame manusia; hukum memberikan aturan yang jelas terhadap tingkah lku manusia akan hal-hal yang di anggap benar dan hal-hl yang di anggap salah; social yaitu sebagai dasar aturan kesusilaan dalam masyarakat, misalnya ekonomi, pendidikan, kesehatan, perkawinan, kesenian, dan lain-lain; fungsi ritual; trnasformatif;

3.      Pranata pendidkan
Pranata pendidikan merupakan salh satu pendidikan sosial dalam rangka proses sosialisasi dn/atau enkulturasi untuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan berasyarakat dan berbuday serta untuk menjaga kelangsungan eksistensi masyarakat dan kebudayaannya.
D. Pendidikan Informal, Formal, dan Nonformal
1. Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. Terjadi di dalam lingkungan dan keluarga.contohnya Agama, Budi pekerti, Etika, Sopan santun, Moral, dan Sosialisasi.
2. Pendidikan formal
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. Satuan pendidikan penyelenggara diantaranya Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), Perguruan tinggi (Akademi, Politeknik,Sekolah Tinggi, Institut, Universitas).
Sekolah memiliki struktur tertentu yang didukung oleh berbagai unsur dan komponen. Fungsi pendidikan sekolah :
1.      Fungsi transmisi kebudayaan masysarakat
2.      Fungsi sosialisasi (memilih dan mengerjakan peranan social)
3.      Fungsi integritasi social
4.      Fungsi mengembangkan kepribadian individu atau anak
5.      Fungsi mempersiapkanan anak untuk suatu pekerjaan
6.      Fungsi inovasi/men-transformasi masyarakat dan kebudayaan
3. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Sasaran Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Fungsi Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Jenis Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
E. Pendidikan, Masyarakat, dan Kebudayaan
Terdapat hubungan timbale balik antara pendidikan dengan masyarakat dengan kebudayaan.dalam hubungan dengan keadaan serta harapan masyarakatnya, masyarakat dan kebudayaan pranata memiliki dua fungsi utama, yaitu:
1.            Fungsi konservasi
2.            Fungsi inovasi/kreasi/trnasformasi
F. Pola-pola Kegiatan Sosial pendidikan
Dalam kegiatan pendidikan, jenis pola kegiatan social pendidikan yang di harapkan terjadi adalah jenis pola transaksional. Adapun dalam kegiatan social pendidikan pola  trasaksional tersebut diharapkan tercipta pola dasar hubungan trnasaksional jenis yang ke empat yaitu I’am OK-You are OK, artinya bahwa guru mau melaksanakan pendidikan dan siswa pun mau malaksanakan pendidikan.
 G. Pola Sikap Guru kepada Siswa dan Implikasinya terhadap Fungsi dan Tipe Guru
David Hargreaves mengemukakan tiga kemungkinan pola sikap guru terhadap muridnya serta implikasinya terhadap fungsi dan tipe/kategori guru :
• Guru berasumsi bahwa muridnya belum menguasai kebudayaan, sedangkan pendidikan diartikan sebagai enkulturasi (pembudayaan). Implikasinya maka tugas dan fungsi guru adalah menggiring muridnya untuk mempelajari hal-hal yang dipilihkan guru. Tipe guru ini dinamakan sebagai penjinak atau penggembala singa.
• Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan untuk belajar yang harus menghadapi materi yang baru, cukup berat dan kurang menarik. Implikasinyatugas guru adalah membuat pengajaran menjadi menyenangkan, menarik, an mudah. Tipe guru ini dinamakan sebagai penghibur atau “entertainer”.
• Guru berasumsi bahwa muridnya mempunyai dorongan belajar ditambah dengan harapan mampu menggali sumber belajar. Implikasinya guru harus memberikan kebebasan yang cukup luas kepada murid. Tipe guru ini dinamakan sebagai guru romantik.

Landasan Sosiologis dan Antropologis Pendidikan bagian 2
A.    Landasan Sosiologis
Anak didik dapat bergaul karena anak didik maupun pendidik merupakan makhluk sosial.
Manusia merupaka makhluk sosial karena manusia memiliki:
1.      Sifat ketergantungan manusia dengan mausia lain
2.      Sifat adaptibility dan intelegensia Keadaan proses atau situasi pendidikan dianalisis secara input terdiri atas instrumental input, purposif input, dan enviromental input.
Proses sosial individu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1.      Faktor organism
2.      Faktor lingkungan alami
3.      Faktor lingkungan sosial dan budaya
Dalam lingkungan sosial proses perkembangannya dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu
1.      Proses belajar social Dalam proses belajar sosial, pembelajarannya menempuh cara sebagai berikut:
a.       Cara pengajaran dan penghukuman Bentuk-bentuk pemberian ganjaran dapat digolongkan seagai berikut:
1.      Bentuk verbal
2.      Bentuk gestural
3.      Bentuk proximity
4.       Bentuk contact
5.      Bentuk activity
6.      Bentuk token
Tujuan pelaksanann hukuman adalah agar anak sadar dan dapat berbuat ke arah yang sesuai dengan norma-norma. Adapun bentuk-bentuknya adalah Hukuman badan danhukuman sosial atau psikologis.
b.      Cara pencontohan dan peniruan.
c.       Cara pemberian informasi.
2.      Dalam proses belajar sosial maka hasilnya merupakan erkembagan kesetiaan sosial (formation of social loyaities). Dalam proses perkembangan kesetian sosial itu yang baik adalah sikap kesetiaan yang wajar, yaitu sikap kesetiaan yang terbuka artinya sikap kesetiaan sosial terhadap kelompok lainnya.

B. Landasan Kebudayaan
Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Kebudayaan produk perseorangan ini tidak disetujui Hasan (1983) dengan mengemukakan kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain-lain kepandaian. Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat.
Dari ketiga devinisi kebudayaan diatas, tampaknya devinisi terakhir yang paling tepat, sebab mencakup semua cara hidup ditambah dengan kehidupan manusia yang diciptakan oleh manuasia itu sendiri sebagai warga masyarakat (Made Pidarta, 1997 : 157).
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu dan makin tinggi kebudayaan makin tinggipula pendidikan atau cara mendidiknya. Karena ruang lingkup kebudayaan sangat luas, mencakup segala aspek kehidupan manusia, maka pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan dalam kebudayaan. Pendidikan yang terlepas dari kebudayaan akan menyebabkan alienasi dari subjek yang dididik dan seterusnya kemungkinan matinya kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu kebudayaan umum harus diajarkan pada semua sekolah. Sedangkan kebudayaan daerah dapat dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal, dan kebudayaan populer juga diajarkan dengan proporsi yang kecil.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya.
  1. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berarti seperangkat norma yang dihayati oleh sekelompok masyarakat dan merupaka cara atau pedoman dalam kehidupannya. Pengertian kebudayaaan ini memiliki ciri bahwa kebudayaan merupakan mili bersama, dipelajari dan merupakan suatu keseluruhan yang terinteraksi dalam kehidupan masyarakat.
  1. Hasil Pemikiran Manusia
Pemikiran manusia dalam ragka perjalanan hidupnya selalu berusaha ntuk meningkatkan kehidupannya dari pemikiran manusia itu memperoleh hasil yang merupakan perangkat pedoman (set of theory) yang apabila perangkat itu diterapkan dalam kehidupan maka menghasilkan khazanah budaya yang bermanfaat bagi kehidupan dan makin berkembang menuju kesempurnaannya.
  1. Kemauan atau Norma
Hubungan norma dengan pendidikan adalah merupakan tujuan umum atau akhir pendidikan
  1. Seni
    Sedangkan hubungan estetika dengan pendidikan adalah sebagai proses menghayati hasil karya seni agar dapat merasakan dan menikmati dengan perasaan
    mendalam terhadap sesuatu hasil yang dicapai serta sekaligus dapat menghargainya.



C.    ANTROPOLOGI
1.      Antropologi
Antopologi merupakan suatu disilin yang endasaran pada asa ngin tahu yang mendalam tentang umat manusia.
Cabang-cabang antropoogi yaitu :
a.       Antropologi fisik
Antropologi fisik paleontroologi merupkan bagian dari antrpologi yang menelaah tentang asal-usul atau terjdiya dan perkembangan makhluk manusia. Objeknya adalah foil manusia (sisa-sisa tubuh manusia yang telah membantu) yang terdaat ddalam lapisan bumi; somtologi yaitu yang menelaah tentang pariasi atau keanekaragaman ras manusia melalui cirri-ciri tubuh manusia secara keeluruhan (cirri-ciri genotife dan venotife)
b.      Antropologi biologi
Arkeologi yaitu bagian antropologi budaya yang mempelajari kebudayaan yang telah sirna; etnografi yaitu pelukis tentang bangsa-bangsa; etnologi yaitu ilmu banga-bangsa.
c.       Antrpolog Budaya
Arkeologi yaitu mempelajar tentang sejarah manusia dan penyebaraannya melalui objek penelitian artefak (benda-benda peninggalan); etnilinguistik yaitu mempelajari timbulnya bahasa, bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa serta penyebaran bahasa umat manusia didunia; etnologi yaitu yang menelusuri asas-asas manusia dengan penelitian seperngkat pola kebudayaan suatu suku bangsa yang menyebar di seluruh dunia.

2.      Antropologi Buaya
Antropologi Budaya adalah antropologi yang khusus menyoroti kebudayaan manusia secara perbandingan.
Sikap seorang ahli antropologi budaya terhadap masalah tersebut berorientasikan pada suatu mashab tau aliran tertentu, diantaranya :
a.       Aliran evolusi predeterminisasi
Kebudyaan setiap masyarakat umumnya berkebang mnurut cara yang telah tertentu sifatnya dan dengan perkembangan yang seragam; kebudayaan manusia berkebang dari yang seerhana hingga menjadi kompleks dengan mlewati tiga tahapan utama evolusi yaitu tahap liar, tahap biadab, dan tahap peradaban.
b.      AlirAn Khususan Sejarah
Terlalu premature untuk mempormulasikanhukum universal menguasai semua kebudayaan manusia sedunia, kebudayaan manusia sangat kompleks keragamann6ya.
c.       Aliran Difusi
Kebanyakan asfek kebudayaan dikembangkan di Mesir kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui kontak orn luar denggan rang mesir; cirri khas kebudayaan yang terdapatdalam suatu wilayah kebudayaan bersumber dari suatu pusat kebudayaan.
d.      Aliran Fungsionalisme
Semua unsure kebudayaan berkebang dengan memuaskan kebutuhan individu; fungsi dari unsur kebudyaan adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang kemudian muncul kebutuhan sekunder.
e.       Aliran Fungsionalisme Struktural
Semua unsure kebudayaan berkembang untuk mempertahankan struktur social masyarakat; fungsi struktu social suatu masyarakat adalah seluruh jaringan dari hubugan-hubungan social.
f.       Aliran pendkatan Fisikologis
Ahli antropologi budaya tertarik pada penelitian tentang hubungan antara kebudayaan dengn kepribadin. Focus studinya mengenai pengalaman masa kanak-kanak mempegaruhi masa dewasa; kebiasaan mengasuh anak merupakan aspek kebudayaan yang penting cirri kepribadian yang berbeda-beda pada suatu bangsa di dunia bersumbr pada cara pengasuhan pada masa kanak-kananknya, factor determinan dari pola pengasuhan anak menjadi penyebab beberapa pola kebudayaan.
g.       Aliran evolusi baru
Perkembangan kebudayaan di dorong oleh kadar inergi yang tersedia baik, tingkat pertambahan, maupun cara penggunaannya.
h.      Aliran Strukturalisme
Kebudayaan manusia mrupakan perwujudan lahiriah dari pikiran manusia; kebudayaan merupakan cara berpikir manusia memandang hal yang ada di dunia sekitarnya dan cara mereka menggolongkan hal itu.
i.        Aliran ethnoscience
Pada umumya manusia berperilaku menurut aturan yang di sadari atau tak di sadari telah di serapnya; mengungkapkan aturan yang mendasari perilaku kebudayan untuk menjelaskan hal yang dilakukan oleh manusia dan alasan mengapa ia berperilaku demikian.
j.        Aliran ekologi
Variasi aspek kebudayaan di pengaruhi atau di batasi oleh adabtasai masyarakat terhadap lingkungannya; lingkungan fisik dan social berpegaruh terhadap perkembangan kebudayaan.




























BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Dengan demikian pengaruh social terhadap pendidika adalah merupakan bentuk pendidikan yang bersamaan dalam kehidupan. Prndidikan merupakan aspek kehidupan. Pengruh kebudayaan terhadap pendidikan dapat dibedakan dengan dua hal yaitu kebudayaan ditinjau dari sudut individu dan kebudayaan ditinjau dari masyarkat.
Karena itu system pendidikan dengan system yang ainnya daam masyarakat mempunyai hubungan yang erat, pendidikan mempengaruhi dan dipengaruhi sitem social, ekonomi, kebudayaan, agama, politik, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

1.     Dahlan, MD., (1984), Model-Model Mengajar; Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar, Bandung, CV. Diponegoro
http://lunnablog-luna.blogspot.com/2010/10/landasan-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar